by Amos
henry ronald under
Artikel ini terinspirasi dari obrolan dengan seorang
rekan saya yang juga musisi (mungkin beliau juga baca artikel ini…he..he…)
rekan saya tersebut, bingung waktu melihat persiapan sebuah konser artis
nasional di daerah kami. Saat itu, rekan saya tersebut melihat ada salah
seorang kru di panggung membawa sebuah mic wireless dan mendekatkan mic
tersebut ke speaker monitor panggung, dan sesekali mengibas-ngibaskan mic
tersebut di dekat speaker monitor tersebut. pertanyaannya : “ngapain tu
orang???” he.he..he..he…
Ini bro, aku jelasin lebih dalam sebatas yang aku tau,
dan mudah-mudahan bermanfaat untuk semua yang baca artikel ini.
Yang di lakukan kru/engineer tersebut adalah memaksa
speaker monitor sampai feedback, kegiatan ini biasa di sebut RINGING OUT.
Kenapa di paksa??? Oya, sebelumnya feedback itu (biasanya di beberapa daerah
dan masyarakat awam bilangnya “storing”) kurang lebih akan terjadi apabila satu
rantai sinyal input dan output yang bertabrakan berulang-ulang/bolak balik
secara kontinu.
Monitor tersebut di paksa feedback agar monitor
engineer dapat melakukan setting equalizer (eq) untuk speaker monitor yang di
paksa tersebut. monitor engineer yang udah profesional, biasanya akan tau eq
frekuensi mana yang harus di cut/boost untuk menghilangkan feedback tersebut.
atau bisa juga di ukur menggunakan RTA (Real time Analyzer), ntar deh di bahas
detail tentang RTA ini
Kenapa eq??? Ya eq inilah
salah satu senjata handal untuk mengusir feedback dari panggung, dengan cara
memotong (cut) atau menambah (boost) beberapa frekuensi yang sekiranya di
anggap penyebab feedback tersebut.
Setelah setting eq tiap monitor di dapat, kembali
monitor tersebut di cek. Seorang kru biasanya akan mengetes dan memaksa sebuah
mic sedekat mungkin di sekitar speaker monitor dan mengecek apakah masih
terjadi feedback. Pada saat inilah biasanya kru melakukan aksi kibas mengibas
microphone :- ) Kenapa kesannya rumit sekali mengurus si monitor panggung
ini???
Inilah penyebabnya : Artis dan pemain musik yang
berada di panggung, jarang yang peduli bagaimana bunyi spekaer utama (yang
menghadap ke penonton). Tetapi sebaliknya, mereka sangat cerewet untuk urusan
speaker monitor. Karena dari speaker di panggung inilah mereka bisa
memonitoring permainan musik atau nyanyian mereka agar bisa di sajikan dengan
baik. Jadi jangan anggap sepele dengan monitor panggung ini. Karena Anda lebih
fokus dan berkonsentrasi ke speaker utama, jangan sampai pada bagian monitor,
ada kesan “yang penting ada!!!”, ga peduli bgmn kualitasnya atau gimana
settingannya, yang penting ada (tepatnya…”asal ada” he..he..he…). Kenapa harus
benar-benar di perhatikan, karena dari monitor inilah penentu bagaimana
performance/penampilan pemain dan artis Anda di sebuah event. Jadi beri
perhatian serius untuk hal monitor ini. Lho, hubungannya dengan kibas mengibas
mic tadi apa?? He.h.e…he..! mendekatkan/mengibas-ngibaskan mic ke monitor
tersebut untuk mengetes apakah masih ada feedback ketika mic dekat dengan
monitor. Ini berguna agar penampilan musisi khususnya penyanyi tidak terganggu
saat penampilan. Mau nyanyinya dekat dengan speaker monitor, mijak monitor,
meluk monitor, ga masalah, penyanyi harus bisa sebebas mungkin bergerak tanpa
harus takut nanti ada feedback. Untuk Anda yang bergerak di Organ Tunggal (ortung), apalagi di daerah kecil
seperti kami di Kerinci, mungkin akan kewalahan, apalagi panggung yang di temui
sering berukuran kecil, dan semuanya serba merapat, serba dekat dan serba
sempit. Cara yang mungkin terbaik untuk setting monitor di panggung yang sempit
adalah : - Jangan gunakan terlalu banyak monitor, gunakan secukupnya. Satu
monitor mono untuk pemain keyboard dan satu lagi agak di bibir panggung untuk
penyanyi, sepertinya udah cukup. - Atur posisi speaker senyaman mungkin untuk
posisi pemain dan penyanyi. Misal, biasanya speaker monitor untuk pemain
keyboard di tarok di lantai, coba akali dengan memberi dudukan untuk speaker monitor
tersebut agar lebih tinggi. Usahakan sama tinggi dan searah dengan telinga si
pemain, jangan terlalu jauh. Kenapa begitu? Ini mengantisipasi agar pemain bisa
memonitor dengan optimal, dan volume untuk monitor tersebut bisa di set tidak
terlalu kuat. Ini bisa meminimalisir suara yang beredar di panggung. - Untuk
vocal, sebaiknya yang di tarok di lantai, bentuk speakernya yang segitiga.
Arahnya menghadap ke penyanyi, tapi di belakang microphone yang di pegang si
penyanyi. Ini juga bisa meminimalisir feedback.
Untuk setting monitor di setiap pemain atau penyanyi
bisa berbeda-beda. Misal : Si pemain keyboard, tidak butuh mendengar
keyboardnya terlalu kuat di speaker monitor, karena dia juga bisa mendengarkan
keyboardnya dari speaker internal keyboard, tapi sebaliknya si pemain keyboard
butuh vocal penyanyi lebih keras di speaker monitornya agar bisa mengiringi
penyanyi dengan baik. Si penyanyi ingin mendengar keyboard sedikit lebih kuat
di speaker monitornya. Lah, bagaimana cara settingnya????? He..he…he…
Caranya begini. Mixer biasanya telah di sediakan
beberapa AUX. Biasanya di gunakan untuk efek. Nah Aux inilah yang kita jadikan
untuk menyetel masing-masing monitor. Misal :
AUX 1 untuk Monitor Pemain Keyboard
AUX 2 untuk Monitor Penyanyi
Channel 1 untuk microphone vocal / penyanyi
Channel 3 untuk keyboard
Speaker monitor ada dua unit :
1 speaker
monitor pemain keyboard, posisinya di dekat pemain keyboard
1 speaker
monitor penyanyi, ada di depan penyanyi atau di bibir panggung dan menghadap ke
penyanyi ( dibelakang microphone)
Asumsi kedua
speaker monitor menggunakan speaker aktif.
konektor output AUX 1 pada mixer di hubungkan ke input
speaker monitor pemain keyboard. Output AUX 2 ke input speaker monitor
penyanyi.
Cara penyetelan
:
- Atur level dan gain tiap channel secukupnya (atau maksimal sampai 0dB di lampu indikator mixer)
- Setelah semua channel udah di atur level dan gainnya, baru atur Auxnya.
- Atur level master AUX. Coba di arah jam 10 atau 12.
- Posisi putaran Master aux di mixer adalah yang terpisah dari deretan channel.
- Semua deretan/putaran AUX 1 tiap channel adalah untuk setting output di speaker monitor pemain keyboard.Kalau pemain keyboard ingin suara vocal di kencangkan di monitornya, berarti Anda tinggal menaikkan Aux 1 di channel 1 (vocal), kalau dia minta suara keyboardnya di kecilin di speaker monitornya, berarti AUX 1 di channel 3 (keyboard) di kecilin.
- Semua Deretan/putaran AUX 2 tiap channel adalah untuk setting output di speaker monitor penyanyi.Kalau penyanyi minta suara keyboard agak di kencangin di monitornya, berarti Anda tinggal memutar/menambah level putaran Aux 2 di channel 3. Kalau penyanyi minta suara micnya di kecilin atau di besarin di speaker monitornya, berarti Anda tinggal memutar putaran AUX 2 di Chanel 1. Begitu seterusnya.
- Kalau pemain keyboard udah merasa perbandingan volume keyboard dan vocal di speaker monitornya udah pas, tapi minta volume speaker monitornya di naikkan, berarti Anda cukup memutar dan menambah level putaran MASTER AUX 1. Begitu juga untuk monitor penyanyi di MASTER AUX 2.
- Begitu seterusnya.
Jadi secara
sederhana, AUX bisa di ibaratkan Mixer di dalam mixer. Untuk organ tunggal
sederhana, 2 Aux untuk monitor, rasanya udah cukup.
Tapi kalau
untuk Band atau orkestra, wah sangat kurang. Makanya pada konser-konser besar,
mixer monitor, biasanya di tarok di samping panggung, ukurannya juga “raksasa”,
karena selain fitur lain, jumlah AUX yang banyak juga sangat di butuhkan. Aux
yang banyak ini untuk memenuhi selera masing-masing pemain. Misal, pemain drum
ingin suara gitar bass lebih kencang, pemain Bass minta suara kick drum lebih
kuat, pemain gitar ingin suara gitarnya lebih kuat, pemain keyboard Cuma ingin
dengar suara penyanyinya aja karena suara penyanyinya menggoda…he..he…. ya..
dengan aux yang banyak di mixer “raksasa” tersebut, semuanya bisa di setting
secara individu.
Untuk
menghilangkan feedback, ya di gunakan equalizer setelah output Aux baru ke
speaker. Atau pada mixer yang gede, udah disediakan colokan Insert di
masing-masing master aux. Untuk menyetel si eq tersebut, kita benar-benar harus
terlatih untuk mengenal dan mendeteksi 31 frekuensi yang menyebabkan feedback
tersebut. atau ada cara lain dengan bantuan RTA. Ntar aja deh di bahas…. Tunggu
saya nuntut ilmu dulu, karena pembahasan yang ini pasti akan sangat
memusingkan.
Oya, untuk yang
menggunakan speaker pasif, output si AUX tadi di masukkan ke power amp dulu,
baru di teruskan ke speaker.
Kesimpulannya :
- Jangan anggap sepele soal monitor ini, karena disinilah penentu performa si pemusik dan si penyanyi.
- Minimalisir suara yang beredar (volume speaker monitor) di panggung tapi harus tetap jelas di dengar oleh si pengguna monitor tersebut. agar mengurangi kemungkinan penyebab terjadinya feedback.
- Usahakan speaker utama (yang menghadap penonton) agak jauh dari panggung dan di posisikan sedikit di depan panggung. Ini juga bisa meminimalkan penyebab feedback.
- Dengan setting mixer yang saya jelaskan di atas, apabila tetap terjadi feedback, jangan mengecilkan volume/level channel atau master out mixer, karena bisa mengganggu yang di dengar penonton, tapi cukup mengecilkan MASTER AUX atau mengecilkan AUX di chanel yang mungkin menyebabkan feedback.
No comments:
Post a Comment